LENTERAINVESTIGASI.COM, MAMASA – Rencana kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke Kabupaten Mamasa menjadi momentum bagi masyarakat untuk menyuarakan berbagai persoalan pembangunan, khususnya di sektor pertanian.
Di tengah besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Mamasa, perhatian terhadap nasib dan kesejahteraan petani dinilai harus menjadi salah satu agenda penting pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Mamasa, Efsan Bongga Bulawan, S.H. Minggu (1/11/2026)
Efsan menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan ketahanan pangan, tetapi juga harus memastikan petani memperoleh kehidupan yang layak dari hasil kerja keras mereka.
“Jangan hanya berbicara tentang ketahanan pangan dan peningkatan produksi pertanian. Pikirkan juga bagaimana kesejahteraan petani. Jangan sampai petani terus diminta meningkatkan produksi, tetapi persoalan pupuk, biaya produksi, akses pasar, dan harga jual hasil panen masih menjadi beban mereka,” tegas Efsan
Mamasa Kaya Potensi, Tapi Kesejahteraan Petani Harus jadi Prioritas
Menurut Efsan, Kabupaten Mamasa merupakan daerah yang dianugerahi kekayaan alam dan kondisi geografis yang sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian, perkebunan, serta peternakan.
Potensi tersebut seharusnya menjadi modal besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Namun, potensi alam saja tidak cukup. Dibutuhkan kebijakan yang konkret, berkelanjutan, dan benar-benar berpihak kepada petani.
Ia menilai pemerintah harus memperhatikan persoalan mendasar yang selama ini dihadapi petani, mulai dari ketersediaan pupuk bersubsidi, bantuan alat dan mesin pertanian, akses permodalan, pembangunan infrastruktur jalan tani, hingga kepastian pemasaran hasil panen.
“Petani tidak cukup hanya dibantu untuk menanam. Mereka juga harus dipastikan bisa menjual hasil panennya dengan harga yang layak. Jangan sampai saat musim tanam kesulitan mendapatkan pupuk, lalu ketika panen justru kesulitan mendapatkan pembeli,” ungkapnya.
Kunjungan Wapres Jangan Sekedar Seremonial
Kunjungan Wakil Presiden RI ke Mamasa diharapkan menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung potensi sekaligus persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan dan pegunungan.
Efsan berharap kehadiran orang nomor dua di Indonesia tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial pemerintahan, tetapi juga menghasilkan perhatian dan tindak lanjut nyata dari pemerintah pusat.
Menurutnya, masyarakat Mamasa membutuhkan kebijakan yang mampu menjawab persoalan riil di lapangan, bukan sekadar janji pembangunan.
“Kami berharap kedatangan Wakil Presiden membawa angin segar bagi kesejahteraan petani Mamasa. Kami ingin pemerintah pusat melihat bahwa daerah ini memiliki potensi pertanian yang luar biasa, tetapi petaninya juga membutuhkan perhatian dan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera,” ujarnya.
KDMP Harus Menjadi Penggerak Ekonomi Desa, Bukan Sekedar Program
Selain sektor pertanian, Efsan juga menyoroti pentingnya keberhasilan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Ia berharap KDMP tidak hanya berhenti pada pembentukan kelembagaan dan pemenuhan administrasi, tetapi benar-benar hadir sebagai instrumen penguatan ekonomi masyarakat desa.
Menurutnya, koperasi desa memiliki peluang strategis untuk menjadi mitra petani, kelompok peternak, dan pelaku UMKM, khususnya dalam membantu distribusi serta pemasaran hasil produksi masyarakat.
Namun, keberhasilan program tersebut harus ditopang oleh kepastian operasional, dukungan permodalan, pendampingan usaha, serta sistem pengelolaan yang transparan dan profesional.
“Jangan sampai koperasi hanya dibentuk secara administratif, tetapi tidak mampu menjalankan kegiatan usaha. KDMP harus menjadi mitra ekonomi petani, bukan sekadar program yang ramai dalam pembentukan, tetapi belum memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Pemerintah Harus Hadir Hingga Ke Pelosok Mamasa
Lebih lanjut, Efsan menekankan bahwa pembangunan pertanian harus menjangkau seluruh wilayah, termasuk desa-desa terpencil yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses ekonomi.
Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan jalan produksi pertanian, kemudahan distribusi sarana produksi, akses pasar, serta pemberdayaan kelompok tani.
Baginya, petani merupakan salah satu fondasi utama ketahanan pangan nasional. Karena itu, sudah sepatutnya mereka mendapatkan perhatian yang seimbang dengan besarnya tanggung jawab yang diberikan kepada sektor pertanian.
“Petani adalah bagian penting dari kekuatan pangan bangsa. Jangan hanya menjadikan petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan, tetapi pastikan mereka juga menjadi pihak yang menikmati hasil pembangunan sektor pertanian,” tutup Efsan.
Pesan Untuk Pemerintah : Ketahanan Pangan Tidak Boleh Berdiri Sendiri Tanpa Kesejahteraan Petani
Mamasa memiliki potensi alam dan sumber daya pertanian yang besar. Tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi tersebut dikelola melalui kebijakan yang tepat, dukungan nyata, kepastian pasar, serta keberpihakan terhadap masyarakat petani.
Sebab, keberhasilan pembangunan pertanian bukan semata-mata diukur dari seberapa banyak hasil panen yang diproduksi, melainkan juga dari seberapa baik kehidupan para petani yang menghasilkannya.
Laporan : PRA